Lanjut ke konten

Kisi-kisi UKG

29 Maret 2013

 

 

Iklan

Kode Etik Guru Indonesia

2 September 2012

KEGI : KODE  ETIK  GURU  INDONESIA…….. Basori Alwi….. SMA 2 Kuala Pembuang

PEMBUKAAN

Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa

jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan

diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan

kualitas manusia Indonesia yang bermain, bertakwa dan berakhlak mulia serta

mengusai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam mewujudkan masyarakat

yang maju, adil, makmur, dan beradab.

Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan

formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru Indonesia memiliki

kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi

manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang

demokratis dan bertanggung jawab.

Guru Indonesia adalah insan yang layak ditiru dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khususnya oleh peserta didik yang

dalam melaksanakan tugas berpegang teguh pada prinsip “

ing ngarso sung

tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri ha

ndayani”

. Dalam usaha

mewujudkan prinsip-prinsip tersebut guru Indonesia ketika menjalankan tugastugas

profesional sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Guru Indonesia bertanggung jawab mengantarkan siswanya untuk

mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang

kehidupan. Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak

mengabaikan peranan guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh

sejajar dengan bangsa lain di negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa

yang akan datang. Kondisi seperti itu bisa mengisyaratkan bahwa guru dan

profesinya merupakan komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh bangsa dan

negara ini sepanjang zaman. Hanya dengan tugas pelaksanaan tugas guru secara

profesional hal itu dapat diwujudkan eksitensi bangsa dan negara yang bermakna,

terhormat dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini.

Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan

guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang

berkualitas, kompetetif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi

persaingan yang makin ketat dan berat sekarang dan dimasa datang.

Dalam melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari

sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman

bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan

etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa.

Bagian Satu

Pengertian, tujuan, dan Fungsi

Pasal 1

(1) Kode Etik Guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan

diterima oleh guru-guru Indonesia . Sebagai pedoman sikap dan perilaku

dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota maasyarakat

dan warga negara.

(2) Pedoman sikap dan perilaku sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) pasal

ini adalah nilai-nilai moral yang membedakan perilaku guru yang baik dan

buruk, yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan selama menunaikan tugastugas

profesionalnya untuk mendidik, mengajar,membimbing, mengarahkan,

melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, serta sikap pergaulan

sehari-hari di dalam dan luar sekolah.

Pasal 2

(1) Kode Etik Guru Indonesia merupakan pedoman sikap dan perilaku bertujuan

menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang

dilindungi undang-undang.

(2) Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma

moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam

hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan

seprofesi, organisasi profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama,

pendidikan, sosial, etika dan kemanusiaan.

Bagian Dua

Sumpah/Janji Guru Indonesia

Pasal 3

(1) Setiap guru mengucapkan sumpah/janji guru Indonesia sebagai wujud

pemahaman, penerimaan, penghormatan, dan kesediaan untuk mematuhi nilainilai

moral yang termuat di dalam Kode Etik Guru Indonesia sebagai

pedoman bersikap dan berperilaku, baik di sekolah maupun di lingkungan

masyarakat.

(2) Sumpah/janji guru Indonesia diucapkan di hadapan pengurus organisasi

profesi guru dan pejabat yang berwenang di wilayah kerja masing-masing.

(3) Setiap pengambilan sumpah/janji guru Indonesia dihadiri oleh penyelenggara

satuan pendidikan.

Pasal 4

(1) Naskah sumpah/janji guru Indonesia dilampirkan sebagai bagian yang tidak

terpisahkan dari Kode Etik Guru Indonesia .

(2) Pengambilan sumpah/janji guru Indonesia dapat dilaksanakan secara

perorangan atau kelompok sebelumnya melaksanakan tugas.

Bagian Tiga

Nilai-nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional

Pasal 5

Kode Etik Guru Indonesia bersumber dari :

(1) Nilai-nilai agama dan Pancasila

(2) Nilai-nilai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,

dan kompetensi profesional.

(3) Nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan

kesehatan jasmaniah, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual,

Pasal 6

(1) Hubungan Guru dengan Peserta Didik:

a. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tuga didik,

mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih,menilai, dan mengevaluasi

proses dan hasil pembelajaran.

b. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan

mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah,

dan anggota masyarakat

c. Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara

individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.

d. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya

untuk kepentingan proses kependidikan.

e. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus

berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah

yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien

bagi peserta didik.

f. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih

sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar

batas kaidah pendidikan.

g. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang

dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.

h. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk

membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan

kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.

i. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali

merendahkan martabat peserta didiknya.

j. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara

adil.

k. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi

kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.

l. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh

perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

m. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta

didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar,

menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.

n. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi serta didiknya untuk alasanalasan

yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum,

kesehatan, dan kemanusiaan.

o. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionallnya

kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial,

kebudayaan, moral, dan agama.

p. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional

dengan peserta didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan

pribadi.

(2) Hubungan Guru dengan Orangtua/wali Siswa :

a. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien

dengan Orangtua/Wali siswa dalam melaksannakan proses pedidikan.

b. Guru mrmberikan informasi kepada Orangtua/wali secara jujur dan

objektif mengenai perkembangan peserta didik.

c. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang

bukan orangtua/walinya.

d. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpatisipasi

dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

e. Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai

kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada

umumnya.

f. Guru menjunjunng tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasin

dengannya berkaitan dengan kesejahteraan kemajuan, dan cita-cita anak

atau anak-anak akan pendidikan.

g. Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan

orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungna-keuntungan pribadi.

(2) Hubungan Guru dengan Masyarakat :

a. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif dan

efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan

pendidikan.

b. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembnagkan dan

meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.

c. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat

d. Guru berkerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan

prestise dan martabat profesinya.

e. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan

masyarakat berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan

kesejahteraan peserta didiknya

f. Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai

agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan

masyarakat.

g. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya

kepada masyarakat.

h. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupam

masyarakat.

(3) Hubungan Guru dengan sekolah

a. Guru memelihara dan eningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.

b. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam

melaksanakan proses pendidikan.

c. Guru menciptakan melaksanakan proses yang kondusif.

d. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan luar sekolah.

e. Guru menghormati rekan sejawat.

f. Guru saling membimbing antarsesama rekan sejawat

g. Guru menjunung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan

kesejawatan dengan standar dan kearifan profesional.

h. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk

tumbuh secara profsional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan

tuntutan profesionalitasnya.

i. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan

pendapat-pendapat profesionalberkaitan dengan tugas-tugas pendidikan

dan pembelajaran

j. Guru membasiskan diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan

dalam setiap tindakan profesional dengan sejawat.

k. Guru memliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat

meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugastugas

profesional pendidikan dan pembelajaran.

l. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari

kaidah-kaidah agama, moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.

m. Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyaan keliru berkaitan

dengan kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.

n. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang

akan merendahkan martabat pribadi dan profesional sejawatnya

o. Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya

atas dasar pendapat siswa atau masyarakat yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan kebenarnya.

p. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk

pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.

q. Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau

tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.

(4) Hubungan Guru dengan Profesi :

a. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi

b. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan

dan bidang studi yang diajarkan

c. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya

d. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam

menjalankan tugas-tugas profesionalnya dan bertanggungjawab atas

konsekuensiinya.

e. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif

individual, dan integritas dalam tindkan-tindakan profesional lainnya.

f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang

akan merendahkan martabat profesionalnya.

g. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian dan pujian yang dapat

mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan proesionalnya

h. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari

tugas-tugas dan tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di

bidang pendidikan dan pembelajaran.

(5) Hubungan guru dengan Organisasi Profesinya :

a. Guru menjadi anggota aorganisasi profesi guru dan berperan serta secara

aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan

kependidikan.

b. Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang

memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan

c. Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat

informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan

masyarakat.

d. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam

menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas

konsekuensinya.

e. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk

tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan

profesional lainnya.

f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang

dapat merendahkan martabat dan eksistensis organisasi profesinya.

g. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk

memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.

h. Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi

profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

(6) Hubungan Guru dengan Pemerintah :

a) Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program

pembangunan bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD

1945, UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Tentang

Guru dan Dosen, dan ketentuan Perundang-Undang lainnya.

b) Guru membantu Program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan

berbudaya.

c) Guru berusaha menciptakan, memeliharadan meningkatkan rasa persatuan

dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan

pancasila dan UUD1945.

d) Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh

pemerintah atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan

pembelajaran.

e) Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang

berakibat pada kerugian negara.

Bagian Empat

Pelaksanaan, Pelanggaran, dan sanksi

Pasal 7

(1) Guru dan organisasi profesi guru bertanggungjawab atas pelaksanaan Kude

Etik Guru Indonesia .

(2) Guru dan organisasi guru berkewajiban mensosialisasikan Kode Etik Guru

Indonesia kepada rekan sejawat Penyelenggara pendidikan, masyarakat dan

pemerintah.

Pasal 8

(1) Pelanggaran adalah perilaku menyimpang dan atau tidak melaksanakan Kode

Etik Guru Indonesia dan ketentuan perundangan yang berlaku yang berkaitan

dengan protes guru.

(2) Guru yang melanggar Kode Etik Guru Indonesia dikenakan sanksi sesuai

dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

(3) Jenis pelanggaran meliputi pelanggaran ringan sedang dan berat.

Pasal 9

(1) Pemberian rekomendasi sanksi terhadap guru yang melakukan pelanggaran

terhadap Kode Etik Guru Indonesia merupakan wewenang Dewan

Kehormatan Guru Indonesia .

(2) Pemberian sanksi oleh Dewan Kehormatan Guru Indonesia sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) harus objektif

(3) Rekomendasi Dewan Kehormatan Guru Indonesia sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) wajib dilaksanakan oleh organisasi profesi guru.

(4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan upaya pembinaan

kepada guru yang melakukan pelanggaran dan untuk menjaga harkat dan

martabat profesi guru.

(5) Siapapun yang mengetahui telah terjadi pelanggaran Kode Etik Guru

Indonesia wajib melapor kepada Dewan Kehormatan Guru Indonesia ,

organisasi profesi guru, atau pejabat yang berwenang.

(6) Setiap pelanggaran dapat melakukan pembelaan diri dengan/atau tanpa

bantuan organisasi profesi guru dan/atau penasehat hukum sesuai dengan jenis

pelanggaran yang dilakukan dihadapan Dewan Kehormatan Guru Indonesia .

Bagian Lima

Ketentuan Tambahan

Pasal 10

Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan pendidikan di

Indonesia wajib mematuhi Kode Etik Guru Indonesia dan peraturan perundangundangan.

Bagian Enam

Penutup

Pasal 11

(1) Setiap guru secara sungguh-sungguh menghayati,mengamalkan serta

menjunjung tinggi Kode Etik Guru Indonesia .

(2) Guru yang belum menjadi anggota organisasi profesi guru harus memilih

organisasi profesi guru yang pembentukannya sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

(3) Dewan Kehormatan Guru Indonesia menetapkan sanksi kepada guru yang

telah secara nyata melanggar Kode Etik Guru Indonesia .

Karyaku Juara

11 Juli 2012

 

 

 

 

Pada peringatan hari Bhayangkara di kabupaten Seruyan pada tanggal 1 Juli 2012 kemaren, karya tulisku tentang masalah kelalulintasan mendapat predikat Juara Pertama dan Kedua….. Alhamdulillah……

Sebenarnya lomba penulisan karya tulis yang diselenggarakan oleh POLRES SERUYAN ini dimulai sejak awal bulan Juni 2012 dan waktu itu aku tidak ada minat untuk mengikuti, mengingat sudah lama tak menulis / membuat tulisan (OPINI atau ULASAN ) sejak vakum dari koresponden SUARA KOTIM pada tahun 2002, tetapi setelah kegiatan ualangan selesai dan menyelesaikan tugas pokok merekap nilai-nilai untuk kenaikan kelas……. eh…. ada waktu sela sebelum pulang kejawa yaitu pada tanggal 19 Juni  sebab tanggal 20 juni aku berangkat.

tanggal 19 Juni 2012 itu sangat berarti, karena sejak siang sampai malam aku menyelesaikan karya tulis tentang lalu lintas sebanyak 2 karya, yang 1 berbentuk OPNI yang satu lagi berbentuk karya tulis dan………………..

Pada pagi hari tanggal 20 Juni 2012 aku mengumpulkan karya itu untuk lomba, karena pada hari itu juga pada jam 13.00 aku dan keluarga berangkat ke jawa…………..

singkat cerita pada tanggal 30 Juni 2012 sore hari aku diberi tahu lewat telpon untuk mengambil hadiah pada peringatan hari bhayangkara yang dilaksanakan di halaman POLRES SERUYAN dalam acara upacara bendera………………. tapi sayang….. aku nggak bisa karena ada di Jawa

Bangga …… karena dapat Juara……………..terima kasih pada Pak Kapolres Seruyan beserta jajarannya dan segenap panitia, semoga tertib lalu lintas dapat mencerminkan budaya masyarakat seperti yang ditetapkan pada tema lomba penulisan karya tulis lalu lintas

INFO GURU (SDM)

12 Februari 2012

                  Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta  melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi

Yang menjadi PERMASALAHAN :

                  Jenjang karier guru belum jelas, tidak seperti dalam kemiliteran dan departemen keuangan

                  Banyak guru yang terpaksa harus ‘nyambi’ à yg sama sekali tidak terkait dg profesinya

                  Belum adanya uji kompetensi, seperti pilot (dalam durasi masa tertentu)

RENDAHNYA PENGAKUAN MASYARAKAT THD PROFESI GURU DISEBABKAN OLEH BEBERAPA FAKTOR:

                  Adanya pandangan masy, bahwa siapa pun dapat menjadi guru asalkan ia berpengetahuan

                  Kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yg tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru

                  Banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya itu.

                  Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan & kepentingan pribadinya shg wibawa guru semakin merosot.

                  Rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme guru

10 SIFAT GURU YANG DISUKAI (PENELITIAN F.W. HART)

  1. Suka membantu dalam pekerjaan sekolah, menerangkan pelajaran dan tugas dg jelas seta mendalam dan menggunakan contoh sewaktu mengajar
  2. Riang, gembira, mempunyai perasaan homur, dan suka menerima lelucon atas dirinya
  3. Bersikap akrab seperti sahabat, merasa sebagai anggota dalam kelompok kelas

4.            Menunjukkan perhatian pada murid dan memahami mereka

5.            Berusaha agar pekerjaan sekolah menarik, membangkitkan keinginan belajar

6.            Tegas, sanggup menguasai kelas, membangkitkan rasa hormat pada murid

7.            Tak pilih kasih, tidak mempunyai anak kesayangan

8.            Tidak suka mengomel, mencela, mengejek, menyindir

9.            Betul-betul mengajarkan sesuatu yang berharga bagi murid

10.          Mempunyai pribadi yang menyenangkan

10 (SEPULUH) SIFAT GURU YANG TIDAK DISUKAI (PENELITIAN F.W. HART)

Terlampau sering marah, tak pernah tersenyum, sering mencela, mengancam

Tak suka membantu murid melakukan pekerjaan rumah, tak jelas menerangkan pelajaran dan tugas,

tidak membuat persiapan saat akan mengajar

Pilih kasih, menekan murid-murid tertentu

4.            Tinggi hati (tinggi diri), sombong, tak mengenakkan murid

5.            Tak karuan, kejam, tak toleran, kasar, terlampau keras, menyuramkan keidupan murid

6.            Tak adil memberi angka dalam ulangan dan ujian

7.            Tak menjaga perasaan anak, membentak-bentak murid di hadapan teman sekelas shg murid2 takut, merasa tak aman

8.            Tak menaruh perhatian kepada murid dan tidak memahami murid

9.            Memberi tugas dan PR yang tidak sepantasnya

10.          Tidak sanggup menjaga disiplin di dalam kelas, tidak dapat mengontrol kelas dan tidak menimbulkan rasa hormat pada dirinya

 

                  REFLEKSI

                  Apakah anda sudah siap menjadi seorang guru?

               Bagaimana upaya anda untuk menjadi guru yang baik dan professional dan sekaligus sebagai pendidik?

SDM (2)

5 Februari 2012

Belajar dari pengalaman hidup, merupakan hal yang sangat menarik sekali untuk dijadikan acuan dalam melangkah, merefleksi maupun memberi input pada sesuatu yang terjadi dikemudian hari…. ya seperti pengamat, pemerhati dan sejenisnya.

Masyarakat awam dam Publik belum tahu betul masalah ” Kenapa sih… Sarjana Non Kependidikan koq diangkat menjadi Guru,  dengan pemahaman apapun masyarakat  awam dan publik tetap mempertanyakan hal itu, sebab pada dasarnya mampukah menjadi guru yang nota bene akan mempertanggung jawabkan sebagai pendidik ?

Pemerintah melalui lembaga keguruan pada dasarnya adalah mencetak, mendidik dan mempersiapkan untuk menjadi guru yang dibekali dengan berbagi metode untuk bisa menjadi pendidik, tetpi sepertinya konsistensi itu tidak dipertahankan, akibatnya……………..mungkin juga ke out put.

SEBAGAI PERBANDINGAN AJA,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Untuk merefleksi Sumber Daya Manusia dalam memperoleh info format guru saat ini. 

  • Kalau kita kaji ulang, mahasiswa yang benar-benar memilih atau memasuki  ataupun  terpaksa mengambil kuliah di jurusan kependidikan, katakanlah selama 4-5 tahun (bukan   seperti mie Instant. red), Dia akan menyadari bahwa nantinya akan menjadi guru dan mendidik dan apa yang didapatkan dalam kurun waktu itu cukup tidak cukup adalah bekal sebagai guru dan proses itu pasti mengubah cara pandang dari yang tadinya asal kuliah atau terpaksa memilih jurusan kependidikan akan menjadi lebih kearah menjaga image lulusan atau ilmu kependidikan yang di punyai, dan peluang untuk menjadi guru pasti terbuka lebar karena proses tahapan yang dilalui sesuai prosedur yang benar yaitu sebagai Alumni Fakultas jurusan pendidikan selama 4-5 tahun dam berijasah…….. (gitu ceritanya)

Tetapi apa yang terjadi dilapangan kerja sekarang….. ? ternyata yang Non Kependidikan diangkat jadi guru juga dengan acuan dasar SARJANA (S1).

  • Padahal……. yang  sarjana non kependidikan tidak permah bermimpi atau berkhayal sewaktu kuliah itu akan menjadi guru bahkan metode atau bayangan menjadi guru tidak pernah diperoleh dan telintas dibenaknya. Secara SDM sangat tidak sesuai karena modal yang mendasar (pola pikir) menjadi guru tidak tertanam, padahal itulah faktor utama dalam membentuk karakter seperti guru. Dan yang diangkat jdi guru memang  memperoleh sertifikat AKTA mengajar (mungkin kuliah , mungkin tidak)

Fenomena yang terjadi diatas adalah karena ” FORMULA ” yang didasarkan karena alasan kebutuhan dan ” keprofesionalan “. Mungkin nanti ada lagi FORMULA-FORMULA BARU…..

Dari tatanan yang ada saat ini, mungkin sebagai keterlanjuran ini : bagaimana untuk mengatasi image masyarakat awam dan publikterhadap Guru yabg non kependidikan ?

“Format Baru” Guru Indonesia (edisi SDM)

3 Februari 2012

Dalam era kedepan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah dipersiapkan, sudah jelas bahwa Guru Indonesia aklan memasuki tatanan baru dalam berbagai karier maupun keprofesionalan dan tentunya menyangkut hidup dan kehidupan.

kalo ditelisik dari perjalanan guru dalam berkarier sebagai pendidik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebenarnya sudah sepantasnya guru yang berkarier ini ada digaris terdepan dalam hal kesejahteraan maupun hal-hal yang lain, tetapi dari perjalanan sejarah sampai memgarah ke sekarang ini profesi guru menjadi perlu dikaji ulang dan banyak menuai berbagai kritik-kritik. Hal ini disebabkan karena buanyak faktor, diantaranya…..(Sumber Daya manusia, SDM red))…

Pertama kali yang menjadi sebuah tanda tanya besar adalah : apakah sebagai seorang guru pasti mampu dikatakan sebagai pendidik ?

Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti mengingatkan kita pada masa yang telah lalu benar….. tentang keberadaan guru pada masa itu, dan mungkin sekarang ini kayaknya tinggal cerita pengantar tidur aja. Sosok guru pada zaman yang 20 tahun yang lalu atau dibelakangnya, guru sangat disegani dan bisa menjadi tauladan anak muridnya…… dan bisa dikatakan jiwa pendidiknya lebih kental meski kepropesionalan saat itu tidak menjadi tuntutan utama.

Singkat cerita……apa yang terjadi sekarang ini ?

dari sekian lama sampai berganti peraturan dan metode untuk mencari formula baru, rasanya kita hanya bisa mendambahkan sosok profesi guru yang menjadi tauladan dan bisa menjadi pendidik seperti yang ada pada zaman dulu….Memang zamannya sudah berubah dan tuntutan hidup yang nerubah tataban perjalanan hidup, tetapi ada kata kunci yang sebenarnya perlu dipertahankan dan di lestarikan yaitu SDM.

Saat ini dan mungkin sampai nanti banyak orang yang mengkaitkan langsung bahwa SDM itu adalah legalitas formal dari perihan ijasah S1, S2, S3 bahkan lebih tinggi lagi dst. Padahal  itu nukan jaminan ( bukan rahasia lagi )

“SDM adalah suatu hasil pola pikir yang ada pada diri manusia”

Setuju atau tidak setuju itu adalah SDM itu menyangkut tanggungjawab, tergantung bagaimana manusia itu mau meningkatkan SDM yang ada pada dirinya, mungkin melalui membaca, bergaul dilingkungan, mencari pengalaman atau berguru pada permasalahan…… karena Sekolah itu merupakan keharusan yang ada di Indonesia atau juga dibelahan negara lain juga begitu, maka sekolah itu di identikkan dengan SDM, semakin tinggi sekolahnya semakin tinggi kualitas SDM nya ?  yang sebenarnya terjadi adalah Sekolah itu merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan SDM.

Bagi yang mampu mempertanggungjawabkan hasil pendidikan sekolah dengan Sumber Daya yang dimilikinya dalam hidup dan kehidupannya……itu baru namanya SDM, tetapi yang terjadi saat ini adalah kebalikannya……..

Kembali pada topik permasalahan :

 1. Apakah dengan kualifikasi Ijasah ( S1) yang sudah ditentukan dalam pertaturan nasional, kualitas guru akan meningkat ?

2. Pada saat sekarang ini, profesi guru tidak menjadikan sebagai pendidik karena muatan kurikulum yang padat, sedangkan masyarakat menuntut ke output tentang tindakan (misalnya tata krama, budi pekerti dan adab kesopanan)

3. Manipulasi SDM, yang seharusnya jadi guru itu cukup yang SARJANA PENDIDIKAN saja, tetapi spekulasi  terjadi,  boleh menjadi profesi guru selain dari SARJANA NON KEPENDIDIKAN tetapi nanti harus mengikuti program induksi, apaka hal ini sesuai dengan harapan ?

Kesemuannya pertanyaaan tersebut diatas jawabnya tidak lain adalah masalah SUMBER DAYA MANUSIA  yang ada pada saat ini, yaitu kembali pada guru yang melaksanakan tugas.

 

 

 

Tot Guru ESD Kalteng

14 Oktober 2011


 Basori Alwi, SP.d (Ketua IGI Kabupaten Seruyan) pada tanggal 5 – 9 Oktober  2011 mengikuti TOT ESD yang di laksanakan di Rungansari 36 Km 36  Palangkaraya, hasilnya…. wah  ! sangat berkesan dan berkesan ….

Intinya dalam TOT guru for ESD (education for Sustainable Develo[pment)  yang ditekankan adlah pembelajaran dalam pendidikan yang berkelanjutan.  penyelenggaranya IGI wilayah Kalimantan Tengah didukung oleh Komda  Redd+ Kalteng bekerja sama dengan KPAI ( komunikasi Peduli Alam Indonesia) sebagai narasumber dan kemitraan pathnership IGI (pertamina foundation and sampoerna foundation)

…………………………………………………………………………………………………………………………………..

50 Guru Kalteng Ikuti Pelatihan ESD

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Kalimantan Tengah bermitra dengan Dinas Pendidikan Provinsi mengadakan Training Of Trainer (TOT) yang diikuti oleh 50 orang dari 14 Kabupaten/Kota se Kalimantan Tengah yang terdiri dari para guru maupun perwakilan dari dinas pendidikan masing-masing wilayah.

“Pendidikan dituntut tidak semata merata dan dapat dinikmati oleh semua orang dan golongan, tapi juga menjadi tumpuan utama bangsa dalam menciptakan warga negara yang mengerti tanggung jawab dan menciptakan kehidupan yang lebih baik,” kata Guntur Talajan, Kadis Pendidikan Provinsi Kalteng ketika membacakan sambutan Sekda Kalteng Siun Jarias Sekretaris, sekaligus membuka kegiatan Program Pengembangan  “Education for Sustainable Development (ESD)” belajar dan mengajar untuk masa depan yang berkelanjutan di Rungan Sari Meeting Centre and Resort jalan Tjilik Riwut km 36 Palangka Raya dari tanggal 5-9 Oktober 2011.

Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan Nasional telah mengadaptasikan ESD dalam beragam kebijakan pendidikan nasional, namun sangat disayangkan belum tersebarnya informasi tersebut secara menyeluruh.

“ESD di Kalteng merupakan tonggak awal suatu daerah memberikan komitmennya terhadap ESD, dengan harapan bahwa program ini tidak semata project sesaat namun lebih kepada mengimplementasikannya ke setiap warga Kalimantan Tengah agar turut serta bertanggung jawab menjaga keberlanjutan peradaban di Indonesia yang khususnya Kalteng dan mewujudkan masyarakat dunia yang peduli pembangunan berkelanjutan,” kata Guntur.

Guntur mengatakan, program seperti “Pendidikan untuk Semua” merupakan salah satu program sekolah yang mendukung keberlanjutan pembangunan, meski demikian bersekolah saja tidaklah cukup melainkan harus mampu menciptakan suasana pendidikan yang layak dan menjadi tumpuan utama bangsa dalam pembangunan di masa mendatang. Kegiatan yang bertujuan menumbuhkan dan mewujudkan warga sekolah serta masyarakat yang responsif juga peduli terhadap segala aspek yang terkait pembangunan berkelanjutan. Memperkuat Jaringan guru dan siswa yang peduli dan aktif dalam kegiatan pembelajaran berdasar pendidikan untuk pembangunan. Dan juga demi mempersiapkan guru-guru yang akan menjadi fasilitator pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Guntur berharap, TOT yang diikuti para guru mampu untuk menghasilkan penyempurnaan kebijakan sekolah, kurikulum dan pembelajaran, serta peningkatan kualitas juga SDM sekolah dalam peningkatan partisipasi kepedulian terhadap masyarakat.

Sementara itu, Ketua IGI Rusnanie Aden mengatakan, kegiatan TOT merupakan rangkaian dari kegiatan yang lainya, yang kemudian akan dipilih sekolah dari masing-masing tingkatan untuk menjadi sekolah model ESD, yang nantinya akan diberikan worshop untuk dapat menyusun program sekolah yang memiliki prinsip ESD.

“Sekolah yang telah mampu menyusun program tersebut akan didampingi sampai dihasilkan kurikulum sekolah yang bercirikan ESD dan memiliki modul, dan sebagai tindak lanjut diharapkan mampu untuk meraih sekolah Adiwiyata dengan dukungan program dari Pertamina Foundation melalui Green School,” kata Rusnanie.

Kegiatan TOT mengahadirkan beberapa narasumber, seperti Sabran Ahmad dari Dewan Adat Provinsi Kalteng, Satgas REDD, IGI wilayah Kalteng, dan Kepala Sekolah SMA-4 Palangka Raya Kampili. Dengan beberapa orang fasilitator, Sururi Azis dari IGI Pusat, Aulia dari KPAI (Komunikasi Peduli Alam Indonesia), Ahmad Rizali dari Pertamina Foundation, dan Stien dari Sampoerna Foundation. ded